Pernikahan à la Suhay Salim & Jay

Beberapa hari ini media sosial diramaikan oleh foto post wedding yang diupload beauty vlogger Indonesia, Suhay Salim, di akun Instagram pribadi miliknya. Awalnya gue gak tahu siapa doi ini setelah salah satu Youtuber asal Indonesia yang berdomisili di Berlin me-repost foto yang di-upload oleh Suhay di instastorynya. Mungkin hanya segelintir orang termasuk gue yang gak up-to-date di dunia per-beauty vlogger-an. Karena gue gak begitu berminat akan segala sesuatu yang berbau make-up (selain karna harganya gak masuk akal) jadinya nonton vlog soal make-up gak begitu penting bagi gue. Jujur, koleksi lipstik gue aja cuma 1-3 doang kali, gak kayak sepupu gue yang punya sampe belasan bahkan puluhan lipstick dengan shades yang mirip tapi beda brand. Lol.

Back to the topic, jadi, apakah yang membuat foto itu mencuri perhatian banyak netizen budiman? Kebanyakan pasangan yang baru saja menikah pasti mengabadikan momen spesial mereka sambil memegang buku nikah lengkap dengan mengenakan pakaian adat dan make-up tebal seperti yang sering kita lihat di internet dan TV. Namun kali ini gue agak sedikit terpesona dengan pakaian yang dikenakan oleh Suhay Salim dan suaminya . Ya, hari Minggu kemarin mereka menikah di KUA hanya dengan mengenakan pakaian yang santai, yaitu T-shirt, blazer dan jeans denga make-up seadanya. Mungkin banyak yang bilang pernikahan mereka terkesan gak niat, but itulah dia. Kita gak punya hak untuk menilai/melarang orang lain mau melakukan apa saja sesuai keinginan mereka.

Sampai hari ini gue masih terpukau dengan keputusan mereka menikah dengan ‘no budget’. Sungguh hal yang sangat menginspirasi untuk gue dan jarang/hampir tidak pernah ditemukan di negara kita tercinta ini. Mungkin kalo jaman dulu banyak yang menikah sesantai ini, tapi kalo sekarang kayaknya hampir gak mungkin deh. Malah semakin kesini yang gue lihat pergelaran pesta pernikahan semakin menjadi-jadi. Sebelum menikah pun ada istilah bridal shower yang mereka mungkin gak tau apa definisi dari bridal shower itu sendiri.

The custom of the bridal shower is said to have grown out of earlier dowry practices, when a poor woman’s family might not have the money to provide a dowry for her, or when a father refused to give his daughter her dowry because he did not approve of the marriage. In such situations, friends of the woman would gather together and bring gifts that would compensate for the dowry and allow her to marry the man of her choice.

Source

Belum lagi harus menyediakan budget untuk menyewa gedung+dekorasi yang nilainya puluhan bahkan sampai ratusan juta rupiah. Budget untuk catering dan harus bener-bener pilih yang masakannya enak karena kalau gak enak bakalan jadi bahan gosip orang-orang. Pakaian pengantin untuk dua kali acara yaitu akad dan resepsi. Lalu menyewa make-up artist untuk pengantin wanita. Band, MC, fotografer dan masih banyak lagi. Deuuhhh, nulis dan ngebayanginnya aja udah buat gue puyeng!

Gue gak iri sama sekali dengan mereka yang mampu mengeluarkan dana sekian rupiah untuk menggelar pesta pernikahan bak pangeran dan putri semalam, hanya saja gue sangat menyayangkan setiap lembar uang yang mereka keluarkan untuk menyajikan makanan kepada orang-orang yang masih mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sementara belum tentu tetangga kita sudah kenyang dan saudara-saudara di belahan bumi lain masih banyak yang bahkan untuk mendapatkan kebutuhan air bersihpun susah. Mungkin karena gue bukan orang kaya yang terbiasa memiliki uang banyak dan membuang-buangnya hanya dalam hitungan jam, jadi gue ngerasa hal itu bener-bener menjadi kekhawatiran gue.

Imho, dalam ajaran agama gue gak ada yang namanya kewajiban untuk menggelar resepsi setelah akad nikah dengan mengundang ratusan bahkan ribuan tamu yang gak ngerti mereka sebenarnya diundang untuk apa. Gue yakin penganut paham idealisme sangat terinspirasi dengan gaya pernikahan Suhay dan suaminya yang super duper santai dan no-budget ini. Gue juga yakin banget sih kalo Suhay Salim dan suaminya berasal dari keluarga berada dan mereka pasti mampu menggelar pernikahan mewah seperti yang lain. Menurut gue pernikahan mereka adalah salah satu contoh penerapan pola pikir yang rasional, gak ribet, gak malu menikah dengan pakaian seadanya, dan yang paling penting adalah gak perlu membuang-buang uang. Ya karna memang esensi pernikahan seperti itu, tidak perlu berpesta pora membuang-buang uang untuk mengadakan acara yang berlangsung hanya dalam semalam karena kehidupan setelah menikah akan membutuhkan lebih banyak dana. Yang terpenting adalah mendapatkan pengakuan baik secara agama dan hukum. Tapi kembali lagi, ini soal prinsip. Setiap orang punya pemahaman berbeda-beda mengenai esensi dari pernikahan itu sendiri.

Advertisements

Contemplation of being late 20s

Hi July, finally we meet again.

July is the middle month of the year. The month of independence day of Uncle Sam. The month which students get their summer break and spend their quality time with their loved ones. The perfect month for ‘bules’ to get their skin tanned in Bali. The month when my Mum gave birth to a girl whom owned this blog. The month that happens to be my birthday which I don’t really like when people congratulate me because I’m getting older. Honestly, I don’t really like this month. I don’t like the sunny kinda weather, because I’ll get sweat a lot. It’s also not a perfect month to contemplate or to reminisce to the past years and think about what I had or had not achive in my life.

Everyone must have a long list of purposes to be achieved in their life. I have no idea, I don’t have any particular goals to be achieved. I think I’m too much enjoying my life as I am now like working from 8.30 am to 5.00 pm, then returned home, taking shower, buying dinner, binge watching tv or movie until fall asleep, then wake up again in the next morning and do the same fuckin’ thing again like yesterday. Sounds boring, I know.

Sometimes in life, we are busy picturing what we thought we wanted our future to be. Walking the path that will lead us towards it, but in the middle of it we realize that it’s not the life we really want. When reality hits, we have to deal with it.

I have a fine job which sometimes I am able to watch a movie or browsing some rubbish on the internet during working hours. A job that helps me to pay the bills. The job that helps me to buy things that I want. I have people whom I call home to always cheer me up every time the things didn’t go I wanted to. I have a best friend who is like a sister I never had and really understand about how weird I am to be friend with. I have a cousin which living in France but she never leaves me even I’m in my lowest point of life. I think that’s the only goal I have for life, it is being surrounded by the people who care about my existence. I’m not only happy but I am also content. Thanks, God.